Perubahan Lagu Koes Plus di Surat Cinta Masyarakat Hutan Tropis Kalimantan

“Tak ada sesuatu yang tidak berubah di dunia ini. Perubahan itu pasti ada walaupun hanya sedikit.”
-Sosiolog Perubahan Sosial-

Memang, terkadang kita tidak sadar akan kehadiran perubahan itu. Perubahan seperti apa? Perubahan bagaimana? Kita menjalani kehidupan sama seperti yang lain. Makan tetap pakai tangan, berbicara tetap pakai mulut, mendengarkan juga tetap pakai telinga. Lantas apa yang disebut dengan "berubah" ?
Perubahan adalah sesuatu konsep yang abstrak. Ketika seorang ibu mengatakan “Wah anakku sudah besar ya sekarang, semakin berat aja ibu gendong kamu sayang.” Itu artinya seorang ibu menyadari bahwa anaknya sudah berubah (berat badannya bertambah). Sedangkan apa itu perubahan sosial ?
Sebelumnya, mari kita mengunjungi sejenak pulau Kalimantan.  



“Welcome to the jungle”, tag line yang tepat untuk menggambarkan pulau tersebut (pada zaman dahulu). Tapi sayang sungguh sayang, pulau Kalimantan saat ini hanya tinggal sebuah kenangan, seperti halnya lagu Koes Plus.
 
“Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Ibarat seorang penulis dengan alur mundurnya, Indonesia pun seperti itu. Berubah dengan berjalan kebelakang tetapi menengok kedepan. Atau seperti seorang pelari yang sedang berlari ditempat. Itulah Indonesia. Sepertinya, kita sudah tak pantas lagi untuk menyanyikan lagu Koes Plus sesuai dengan lirik aslinya. Mari kita bernyanyi sesuai dengan keadaan saat ini. Selain bernostalgia (karena menggunakan nada yang sama) juga untuk berkaca.

“Bukan lautan hanya kolam sampah
Kail dan jala tidak cukup hidupimu
Hanya badai dan topan kau temui
Tak ada ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Hanya sawit, sawit, dan sawit dimana-mana”

Sawit seperti berjaya di negeri orang. Dia bagaikan benalu yang merajai pulau Kalimantan. Bagaimana tidak, berjuta-juta hektar hutan tropis diubah total menjadi perkebunan sawit. Masyarakat Dayak (warga asli pulau Kalimantan) pun dipaksa untuk bersahabat dengan suara mesin gergaji setiap pagi, siang, petang maupun malam. Tak cukup hanya disitu, mereka pun dipaksa bekerja di perkebunan sawit untuk bertahan hidup. Tak peduli seberapa kuatnya ikatan mereka dengan hutan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selama struktur tetap mendukung para pebisnis sawit kaya raya itu.


Tapi, kenapa harus mereka LAGI yang disalahkan, ketika asap menyapa Malaysia, Brunei bahkan Singapura. 
Perubahan macam apa ini ?

Betul yang dikatakan C. Wright Mills, perubahan itu tidak melulu soal kemajuan tapi juga kemunduran.
Akan dibawa kemana kami ? Akan dibawa kemana pulau Kalimantan ini ?


Post a Comment

Popular posts from this blog

HIJAB TRAVELER (Ika Nur Setiyawati's Journey)

Learning Simple Japanese Language For Backpacker or Traveler

Photo Blog Merapi Mountain - Part 1