REDD+ di Kalimantan Tengah Hanya Celoteh Belaka

Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu
Jelas kami kecewa menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita pengantar lelap si buyung

Begitulah kiranya penggalan lagu dari Iwan Fals yang dapat mengantarkan kita menuju masa depan hutan Kalimantan. Keberadaan penyangga hutan dunia ini begitu mengkhawatirkan. Keberadaan hutan Kalimantan kini bagaikan sebuah topeng, jika tampak dari luar akan terlihat asri, namun ketika kita menilisik jauh kedalam maka akan tampak tanah kosong seluas lapangan sepak bola yang menyisakan pohon-pohon yang tumbang. Potret ini sesuai dengan penggalan lagu diatas. 

Sebenarnya, hal itulah yang perlu kita benahi, salah satunya melalui REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and Degradation) di Kalimantan Tengah. Setelah kita merasakan berbagai bencana mulai menyapa Indonesia, seperti meletusnya Gunung Kelud, Gunung Lokon, Gunung Slamet, bahkan kekeringan yang melanda daerah Klaten. Konsep REDD+ ini seolah memberikan angin segar kepada masyarakat pinggiran hutan. Kenapa?

REDD+ mengurangi kemiskinan
REDD+ hadir sebagai mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pinggiran hutan, secara notabene berada dibawah garis kemiskinan, melalui pengelolaan hutan desa/kemasyarakatan (HKm). Dimana masyarakat dapat secara bebas mengelola kawasan hutan yang telah ditetapkan sebagai kawasan HKm tersebut, misalnya dengan menanam pohon karet, beternak sapi ataupun bertani ikan dan aktivitas lain yang low emisi. Hasil dari aktivitas-aktivitas itulah yang menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat pinggiran hutan.

REDD+ Melestarikan Hutan
Selain itu secara tidak langsung konsep inipun dapat melestarikan hutan. Hal ini dikarenakan dengan terpenuhinya kebutuhan masyarakat maka secara tidak langsung dapat meminimalisir mereka untuk masuk ke hutan dan melakukan aktivitas yang tidak mendukung REDD+. Seperti menebang pohon, mengambil kayu dan melakukan perburuan satwa yang dilindungi.

Hambatan REDD+
Dalam prosesnya, memang terdapat beberapa tantangan untuk mewujudkan hutan lestari melalui REDD+. Seolah-olah kini REDD+ hanya sebagai sebuah wacana besar dengan segudang harapan. Alhasil masyarakat pun hanya bisa menanti. 

“Jalan kesana kan pake minyak, gak ada kelotok. Naik kelotok itu 1 jam gak nyampe. Jadi ya kalau gak ada ijin kita belum bisa masuk. Iya. Cuma kan enaknya kalau udah resmi itu kan enak, kita gak ragu. Kita mengeluarkan modal, kemaren kan dari BKSDA kan udah siap bantu kelotok. Kita taruh gini gini. Karena sudah di jual. Pokoknya ijin jadi, itu udah ada yang mau ngasih 10 ekor sapi,” kata Marwan, Ketua Kelompok Hutan Kemasyarakatan Mawar Bersemi.

Hambatan tersebut bukanlah kesalahan teknis dari para petinggi tapi hanya secuil keegoisan yang tampak kepermukaan. Bukan saja masyarakat pinggiran hutan saja yang bergantung pada keberadaan huta serta ekosistem didalamnya. Tapi seluruh masyarakat di dunia. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama introspeksi diri demi kelangsungan hidup umat manusia di dunia, terutama nasib anak cucu kita. Jangan biarkan kita hidup tanpa hutan.

Salam lestari !

Post a Comment

Popular posts from this blog

HIJAB TRAVELER (Ika Nur Setiyawati's Journey)

Learning Simple Japanese Language For Backpacker or Traveler

Photo Blog Merapi Mountain - Part 1